Diam Bukan Berarti Mengizinkan

Terungkapnya pelecehan dan kekerasan seksual oleh beberapa figur publik selama setahun terakhir memaksa saya melihat ke belakang. Saya tak kuasa memutar kembali pengalaman-pengalaman berinteraksi dengan berbagai laki-laki di hidup saya. Di rumah, di sekolah, di tempat kerja. Dengan anggota keluarga, mantan-mantan pacar, teman-teman, sampai atasan. Saya mengamati semuanya dengan lebih lekat. Setiap godaan verbal di […]

Read more "Diam Bukan Berarti Mengizinkan"

Ambisi Karin

Karin sudah lelah berusaha. Semua sudah dia coba, tapi tak pernah ada hasilnya. Setiap akhir pekan dia naik TransJakarta menuju Pantai Ancol, lalu dalam balutan bikininya, dia merebahkan tubuh di atas pasir, membiarkannya terpanggang matahari Jakarta Utara yang tak kenal ampun. “Neng! Masya Allaaaaah! Aurat itu, Neng! Tutup dooong… kagak malu, lu?” “Bujubuneeeeeng! Ada Roro […]

Read more "Ambisi Karin"

Dadar Gulung Kenang-Kenangan

Apa sih bedanya daun suji dengan daun pandan? Ia menarik napas panjang. Semua bahan sudah dibeli kecuali satu itu saja. Daun suji. Pergi ke pasar tradisional pun percuma. Ia tak tahu seperti apa rupa daun suji. Diambilnya ponsel dan dibukanya aplikasi browser. Ia mengetik kata “beli daun suji” di kotak pencarian. Ada di toko online. Tapi, […]

Read more "Dadar Gulung Kenang-Kenangan"

Prolog: Sebuah Catatan Tentang Duka

Yang selalu kuingat tentang Ai adalah senyumnya. Tak ada yang mengalahkan senyum ceria pada wajah berbingkai jilbab putih dan berhias andeng-andeng di pipi kiri itu. Tentang jilbab, ia pernah bercerita padaku, “Ai baru saja kok, pakai jilbab. Sewaktu SMP, Ai nggak pakai. Ada kok, fotonya.” Ia selalu memanggil dirinya sendiri dengan “Ai”. Bukan “aku”, bukan […]

Read more "Prolog: Sebuah Catatan Tentang Duka"

Menjadi Mayoritas

Baru saja membaca percakapan di media sosial yang cukup membuat dahi saya mengerut. Menanggapi berita pertunangan sesama jenis seorang selebriti, si A (perempuan) bertanya-tanya kenapa lelaki ganteng seperti selebriti itu nggak suka ‘mbak-mbak’. Si B (rekannya yang tidak saya kenal, laki-laki) merespon, yang intinya kira-kira, kalau nggak ada mbak-mbak padahal masih ada janda. Si A […]

Read more "Menjadi Mayoritas"

Ruang Tanpa Sekat dan Pelaminan Yang Absen

Beberapa hari setelah acara pernikahan kami, ada yang menyampaikan sesuatu pada saya. Dia bilang, ada seorang anggota keluarga saya yang berkomentar negatif. “Tanya tuh, sama Eka, apa enaknya makan sambil dijemur matahari begini?” demikian kalimat yang sampai di telinga saya. Saya cuma tersenyum kecut mendengarnya. Empat bulan sudah berlalu sejak acara kami berlangsung dan kalimat itu […]

Read more "Ruang Tanpa Sekat dan Pelaminan Yang Absen"

Mungkin Perlu Pawang Matahari

Rangkaian tulisan ini ditujukan untuk berbagi pengalaman kami saat mempersiapkan acara pernikahan. Akan ada tiga bagian cerita tentang bagaimana kami menyelenggarakan sebuah acara outdoor bernuansa vintage rustic, tanpa pelaminan. Enjoy! Hari ketika saya resmi menjadi Nyonya Masrul Arief (bisa disingkat menjadi “Masief” dan ditambah “The” di depannya–seperti cara Melania memanggil Donald Trump–sehingga menjadi “The Masief”) masih menjadi kenangan yang paling […]

Read more "Mungkin Perlu Pawang Matahari"